Karena rasa cinta dan ingin memberi sesuatu untuk kota tercinta yang mendorong saya memuat tulisan.

Barangkali tidak ada satupun penduduk di kota ini yang tidak tahu bahwa Visi dari Pemerintah Kota Manado yang didukung oleh seluruh masyarakat menjadikan kota yang bermotto “kota Tinutuan” ini menjadi kota pariwisata dunia mulai tahun 2010. Hal ini sangat padu padan dengan ditetapkannya kota ini menjadi tuan rumah pelaksanaan event internasional bertajuk “WOC : World Ocean Converence”, pada tahun 2009. Persiapan kearah itu mulai menujukkan titik terang setelah Manado pada tahun 2008 ditetapkan menjadi salah satu kota peraih Adipura sebagai Anugrah kota terbersih di Indonesia untuk kategori kota sedang.
Tulisan ini saya buat bukan untuk tumpek blek membahas soal siap tidaknya atau sudah sejauh mana dukungan (baca ; kesiapan) semua sektor untuk suksesnya program ini atau ikut-ikutan latah menambah panjang polemik soal bagaimana jadinya kota Manado kalau program ini jalan, sekali kali bukan. Hal ini saya lakukan sebagai bagian dari bagaimana membuat kota ini paling tidak dicintai dulu oleh warganya sendiri. Tetapi kalau mau jujur tulisan ini dibuat untuk menyadarkan kita semua dan bila mungkin ikut memberi pengaruh dalam hal pengambilan keputusan. Oh ya, saya jamin bahwa content tulisan ini jauh dari subjektifitas karena penulis menyaksikan dengan mata kepala sendiri dan merasakan langsung kondisi ini.
Kalau mau diberi judul barangkali yang paling tepat adalah “Kesadaran masyarakat Manado terutama dalam hal menjaga kebersihan daerah Pantai dan Laut Kota Manado”.
Setelah bolak-balik Manado – Sitaro dalam rangka tugas sebagai Pendamping Perencanaan Pendidikan pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (SITARO), membuat saya makin akrab dengan situasi dan kondisi pelabuhan Manado.
Sepintas ketika berkunjung ke Pelabuhan Manado tidak terlalu nampak mencolok kondisi ini tetapi setelah diperhatikan secara seksama apalagi bila kita melakukan pelayaran lokal antara lain ke beberapa pulau seperti Siau, Tagulandang, Sangihe dan Talaud maka mata kita akan terbelalak (jika memang punya kesadaran) bagaimana wajah pelabuhan Manado, daerah pantainya dan laut disekitarnya hal ini terjadi karena Sampah yang sebagian besar berbahan dasar plastik terhampar seperti permadani yang menutupi sebagian besar wilayah pelabuhan, pantai bahkan sampai dengan wilayah sekitar salah satu objek andalan pariwisata Manado yaitu Taman Laut Bunaken.
Mengapa tidak, sepanjang perjalanan dari Pelabuhan Manado kita disuguhkan dengan pemandangan yang sangat tidak mengenakkan ini. Hal mana justru diperparah dengan tingkat kesadaran penumpang kapal yang sangat kurang dimana sampah apakah itu sisa-sisa makanan, plastik pembungkus, botol-botol minuman mineral, dan lain-lain dengan seenak perut dibuang keluar kapal (sudah barang tentu ke laut).
Entah sudah berapa lama kondisi ini berlangsung, tetapi menurut informasi sebagian masyarakat pengguna jasa pelabuhan dan yang sering melakukan perjalanan laut dari dan ke pelabuhan Manado hal ini sudah terjadi sejak lama dan kondisi ini diperparah karena perhatian pihak terkait sangat lemah baik dalam bentuk sosialisasi maupun tindakan hukum bagi masyarakat yang dengan begitu “nyaman dan enak” melakukan tindakan yang sudah jelas sangat tidak terpuji baik para pengunjung maupun masyarakat yang tinggal di daerah alisan sungai yang bermuara kelaut ini maupun masyarakat kita pada umumnya. Inilah kenyataan yang terpampang di depan mata kita yang sepertinya belum mendapat perhatian dari semua pihak.
Kalau tidak ingin kehilangan aset terbesar dan demi kelangsungan hidup serta demi kenyamanan, dan tentunya kecintaan terhadap bumi dan isinya yang merupakan anugerah Tuhan untuk kita kelola dan berdayakan dengan sebaik-baiknya juga sebagai wujud tanggung jawab kita terhadap anak dan cucu-cucu kita maka sudah seharusnyalah kita semua merubah kondisi ini. Cara yang paling sederhana dan cepat adalah dengan membangun kesadaran itu dari diri kita sendiri.
Ayo berbenah Manado, Kota Pariwisata Dunia, Event WOC sudah didepan mata. Mari kita merubah cara pandang kita selama ini yang kelihatan baik dan bersih hanya di tempat2 tertentu tapi membangun kesadaran itu secara utuh agar ada “rasa malu” kalau lingkungan kita kotor dan takut karena bagaimanapun semua akibatnya kita juga yang akan menerimanya”.