April 2008


Karena rasa cinta dan ingin memberi sesuatu untuk kota tercinta yang mendorong saya memuat tulisan.

Barangkali tidak ada satupun penduduk di kota ini yang tidak tahu bahwa Visi dari Pemerintah Kota Manado yang didukung oleh seluruh masyarakat menjadikan kota yang bermotto “kota Tinutuan” ini menjadi kota pariwisata dunia mulai tahun 2010. Hal ini sangat padu padan dengan ditetapkannya kota ini menjadi tuan rumah pelaksanaan event internasional bertajuk “WOC : World Ocean Converence”, pada tahun 2009. Persiapan kearah itu mulai menujukkan titik terang setelah Manado pada tahun 2008 ditetapkan menjadi salah satu kota peraih Adipura sebagai Anugrah kota terbersih di Indonesia untuk kategori kota sedang.
Tulisan ini saya buat bukan untuk tumpek blek membahas soal siap tidaknya atau sudah sejauh mana dukungan (baca ; kesiapan) semua sektor untuk suksesnya program ini atau ikut-ikutan latah menambah panjang polemik soal bagaimana jadinya kota Manado kalau program ini jalan, sekali kali bukan. Hal ini saya lakukan sebagai bagian dari bagaimana membuat kota ini paling tidak dicintai dulu oleh warganya sendiri. Tetapi kalau mau jujur tulisan ini dibuat untuk menyadarkan kita semua dan bila mungkin ikut memberi pengaruh dalam hal pengambilan keputusan. Oh ya, saya jamin bahwa content tulisan ini jauh dari subjektifitas karena penulis menyaksikan dengan mata kepala sendiri dan merasakan langsung kondisi ini.
Kalau mau diberi judul barangkali yang paling tepat adalah “Kesadaran masyarakat Manado terutama dalam hal menjaga kebersihan daerah Pantai dan Laut Kota Manado”.
Setelah bolak-balik Manado – Sitaro dalam rangka tugas sebagai Pendamping Perencanaan Pendidikan pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (SITARO), membuat saya makin akrab dengan situasi dan kondisi pelabuhan Manado.
Sepintas ketika berkunjung ke Pelabuhan Manado tidak terlalu nampak mencolok kondisi ini tetapi setelah diperhatikan secara seksama apalagi bila kita melakukan pelayaran lokal antara lain ke beberapa pulau seperti Siau, Tagulandang, Sangihe dan Talaud maka mata kita akan terbelalak (jika memang punya kesadaran) bagaimana wajah pelabuhan Manado, daerah pantainya dan laut disekitarnya hal ini terjadi karena Sampah yang sebagian besar berbahan dasar plastik terhampar seperti permadani yang menutupi sebagian besar wilayah pelabuhan, pantai bahkan sampai dengan wilayah sekitar salah satu objek andalan pariwisata Manado yaitu Taman Laut Bunaken.
Mengapa tidak, sepanjang perjalanan dari Pelabuhan Manado kita disuguhkan dengan pemandangan yang sangat tidak mengenakkan ini. Hal mana justru diperparah dengan tingkat kesadaran penumpang kapal yang sangat kurang dimana sampah apakah itu sisa-sisa makanan, plastik pembungkus, botol-botol minuman mineral, dan lain-lain dengan seenak perut dibuang keluar kapal (sudah barang tentu ke laut).
Entah sudah berapa lama kondisi ini berlangsung, tetapi menurut informasi sebagian masyarakat pengguna jasa pelabuhan dan yang sering melakukan perjalanan laut dari dan ke pelabuhan Manado hal ini sudah terjadi sejak lama dan kondisi ini diperparah karena perhatian pihak terkait sangat lemah baik dalam bentuk sosialisasi maupun tindakan hukum bagi masyarakat yang dengan begitu “nyaman dan enak” melakukan tindakan yang sudah jelas sangat tidak terpuji baik para pengunjung maupun masyarakat yang tinggal di daerah alisan sungai yang bermuara kelaut ini maupun masyarakat kita pada umumnya. Inilah kenyataan yang terpampang di depan mata kita yang sepertinya belum mendapat perhatian dari semua pihak.
Kalau tidak ingin kehilangan aset terbesar dan demi kelangsungan hidup serta demi kenyamanan, dan tentunya kecintaan terhadap bumi dan isinya yang merupakan anugerah Tuhan untuk kita kelola dan berdayakan dengan sebaik-baiknya juga sebagai wujud tanggung jawab kita terhadap anak dan cucu-cucu kita maka sudah seharusnyalah kita semua merubah kondisi ini. Cara yang paling sederhana dan cepat adalah dengan membangun kesadaran itu dari diri kita sendiri.
Ayo berbenah Manado, Kota Pariwisata Dunia, Event WOC sudah didepan mata. Mari kita merubah cara pandang kita selama ini yang kelihatan baik dan bersih hanya di tempat2 tertentu tapi membangun kesadaran itu secara utuh agar ada “rasa malu” kalau lingkungan kita kotor dan takut karena bagaimanapun semua akibatnya kita juga yang akan menerimanya”.


Uang bisa membeli rumah,
tapi tidak bisa membeli kenyamanan.

Uang bisa membeli tempat tidur,
tapi tidak bisa membeli tidur nyenyak.

Uang bisa membeli buku,
tapi tidak bisa membeli pengetahuan.

Uang bisa memberikan jabatan,
tapi tidak bisa memberikan hormat.

Uang bisa membeli obat,
tapi tidak kesehatan.

Uang bisa membeli darah,
tapi tidak kesembuhan

Jadi tau `kan sekarang, uang itu bukan segalanya. Lagipula uang sering membawa penderitaan.
Aku memberitahukanmu hal ini karena aku temanmu, dan sebagai teman, aku ingin mengambil alih semua penderitaanmu.
Jadi kirimkan semua uangmu dan biar aku saja yang menderita. Mana ada teman sepertiku?!

“Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.” (1 Timotius 6:10)

( Kupersembahkan untuk semua yang menganggap uang itu segalanya! )

Ketika sedang merenovasi sebuah rumah, seseorang mencoba merontokan tembok. Rumah di Jepang biasanya memiliki ruang kosong diantara tembok yang terbuat dari kayu. Ketika tembok mulai rontok, dia menemukan seekor cicak terperangkap diantara ruang kosong itu karena kakinya melekat pada sebuah surat.Dia merasa kasihan sekaligus penasaran. Lalu ketika dia mengecek surat itu, ternyata surat tersebut telah ada disitu 10 tahun lalu ketika rumah itu pertama kali dibangun.Apa yang terjadi? Bagaimana cicak itu dapat bertahan dengan kondisi terperangkap selama 10 tahun??? Dalam keadaan gelap selama 10 tahun, tanpa bergerak sedikitpun, itu adalah sesuatu yang mustahil dan tidak masuk akal.Orang itu lalu berpikir, bagaimana cicak itu dapat bertahan hidup selama 10 tahun tanpa berpindah dari tempatnya sejak kakinya melekat pada surat itu!Orang itu lalu menghentikan pekerjaannya dan memperhatikan cicak itu, apa yang dilakukan dan apa yang dimakannya hingga dapat bertahan. Kemudian, tidak tahu darimana datangnya, seekor cicak lain muncul dengan makanan di mulutnya….AHHHH!Orang itu merasa terharu melihat hal itu. Ternyata ada seekor cicak lain yang selalu memperhatikan cicak yang terperangkap itu selama 10 tahun.Sungguh ini sebuah cinta…cinta yang indah. Cinta dapat terjadi bahkan pada hewan yang kecil seperti dua ekor cicak itu. apa yang dapat dilakukan oleh cinta? tentu saja sebuah keajaiban.Bayangkan, cicak itu tidak pernah menyerah dan tidak pernah berhenti memperhatikan pasangannya selama 10 tahun. bayangkan bagaimana hewan yang kecil itu dapat memiliki karunia yang begitu menganggumkan.Saya tersentuh ketika mendengar cerita ini. Lalu saya mulai berpikir tentang hubungan yang terjalin antara keluarga, teman, kekasih, saudara lelaki, saudara perempuan….. Seiring dengan berkembangnya teknologi, akses kita untuk mendapatkan informasi berkembang sangat cepat. Tapi tak peduli sejauh apa jarak diantara kita, berusahalah semampumu untuk tetap dekat dengan orang-orang yang kita kasihi. JANGAN PERNAH MENGABAIKAN ORANG YANG ANDA KASIHI!!!

-Kisah ini berasal dari Jepang-

Dear All,
Pertama-tama kenalkan nama saya Melkiur Johanis Masikome, berdasarkan SK Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Utara No. 050/Kep/Diknas-06/299/2008 tahun 2008 ditetapkan sebagai Pendamping Perencanaan Pendidikan Kab. Kepulauan Sitaro ( Siau Tagulandang Biaro).
Saya perlu informasikan bahwa kabupaten Kep. Sitaro resmi menjadi kabupaten setelah dimekarkan dari kabupaten Induk Sangihe pada tanggal 23 Mei 2007 sedangkan pembentukan SKPD nanti Juli 2007.
Saat ini kondisinya masih sangat terbatas baik dari sisi SDM maupun fasilitas yang ada. Walaupun sudah memiliki koneksi untuk internet (lewat VSAT) tetapi PC relay baru 1 unit.
Oh ya, saya sendirian bertugas di kabupaten ini karena tidak ada satupun mahasiswa PJJ D3 TKJ asal kabupaten Sitaro, jadi saya boleh disebut wali kabupaten sekaligus wali atas 10 kecamatan topografisnya terdiri dari banyak pulau dengan kondisi alam yang sering tidak bersahabat ( Ombak besar disertai angin kencang dapat terjadi sewaktu-waktu).
Sampat saat ini oleh karena faktor yang saya sebutkan diatas ditambah lagi karena miss informasi/komunikasi dengan kabupaten induk Sangihe, maka untuk proses entry data (NPSN dan NISN atau Dapodik) belum dilakukan sama sekali malah data untuk keperluan entry belum ada.
Karena itu menjadi tugas saya untuk mensosialisasikan kembali mengenai program ini kepada semua komponen di dinas pendidikan dan kebudayaan Kab. Kepulauan Sitaro dan saat ini baru dilaksanakan proses pengumpulan data artinya sampai saat ini untuk NPSN dan NISN yang di entry oleh kab. Kepulauan Sitaro masih Nol ( 0 ).
Mudah-mudahan proses pengumpulan data lancar dan semua tugas ini akan bisa saya kejar ketertinggalan Sitaro dibandingkan dengan daerah lain.
Mungkin kendala pribadi saya adalah karena sampai saat ini saya masih berdomisili di Ibu Kota Provinsi “Manado”, yang untuk mencapainya dibutuhkan waktu sekitar 8 jam dengan tranportasi laut sebagai satu-satunya alternatif transportasi yang ada (tidak ada yang lain), yang pembiayaannya masih 100% dari kantong pribadi.
Saya berharap curahan hati ini tidak di interpretasikan sebagai sikap cengeng. Saya memilih “Wadah” ini untuk menyampaikan isi hati saya ini dengan harapan boleh mendapat masukan dan bisa saling share pengalaman dengan teman-teman di seluruh Indonesia.
Terima kasih karena sudah membaca pesan saya ini.